Disadari atau tidak manusia tidak akan pernah berhenti belajar, dari setiap hari peristiwa yang dialami dan pastinya tanpa disadari sahabat sekretaris juga pernah mengalaminya. Sebagai seorang wanita yang bekerja ataupun ibu rumah tangga pernahkah terpikir bahwa pengalaman di rumah atau kantor sekalipun bisa mengajarkan hal-hal baru yang bisa diterapkan juga baik di kantor atau sebaliknya di rumah? Dimulai dari masalah membangun sikap toleransi,  meningkatkan percaya diri, hingga menangani serbuan tugas.

Belajar dari Rumah, yaitu :

1. Belajar Toleransi

Sebagai seorang ibu, kesabaran adalah sebuah modal  dalam menghadapi segala urusan rumah tangga dan anak-anak. Termasuk di dalamnya bertoleransi terhadap  kemampuan masing-masing sikap anggota rumah, anak-anak, suami atau bahkan pembantu atau pengasuh. Penglaman seorang ibu juga mengajarkan bahwa orang harus selalu menyesuaikan harapan terhadap anak maupun anak buah di kantor sesuai kemampuan masing-masing.  Berusaha menyesuaikan  pemberian tugas  dan tuntutan terhadap anak buah. Tidak bila menyamaratakan kemampuan semua orang. Anak buah yang lebih mampu diberikan tugas yang lebih kompleks. begitu juga sebaliknya, yang kurang mampu diberikan yang lebih ringan. dengan memberi tugas yang sesuai kemampuan masing-masing, kita juga mengembangkan rasa percaya diri mereka.

2. Belajar Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Tidak perlu menunggu orang lain untuk meningkatkan percaya diri. Mulailah dari diri kita sendiri.  Misalnya dengan kekurang-mampuan berhitung dalam mengelola keuangan rumah tangga bisa dimanfaatkan dengan praktek langsung yang kontinu. Memang pada awalnya belum ada kepercayaan penuh, ada kekurangan disana-sini tapi latihan dan praktek langsung seperti ini  dengan konsisten dan kontinu akan menjadi terampil dengan sendirinya. 

Belajar untuk tidak menyerah pada tindakan manipulasi. Apalagi dalam hal mengurus anak, akan ada taktik yang diberikn anak untuk menunda pekerjaan atau kewajibannya, seperti jam tidur, belajar, les, dll. Itulah perlunya konsisten dalam menerapkan peraturan,  Tapi di sisi lain jangan pernah menggunakan ancaman untuk meningkatkan keyakinan diri anda.  Begitu pula di kantor,  karena memberikan ancaman hanya akan membuat anda kelihatan otoriter  dan idak bertoleransi. Padahal ada jalan kompromi yang terbaik , yang bisa dilakukan dan lebih aman dari ancaman. 

3. Belajar Mengenal Pribadi Orang Lain

Untuk mendisiplinkan dan mengarahkan anak harus tahu persis hal-hal penting. Karena hal yang dapat memotivasi seseorang belum tentu bisa memotivasi orang yang lainnya. Juga dalam memberikan hukuman pada anak. 

Begitupun di kantor, harus mempertimbangkan faktor kepribadian dalam mengarahkan anak buah.  Ada yang bisa ditegur keras atau halus. Atau ada yang suka diapreasi dengan terus terang ada yang malu atau risih dengan pujian.  Ini tentunya bukan pilih kasih tapi lebih karena setip orang punya kepribadian yang berbeda jadi reaksi terhadap pujian, kritikan, saran, dll. pun bisa berbea-beda.

Belajar dari Kantor, yaitu :

1. Belajar Menangani Serbuan Tugas

Kebiasaan menangani tugas yang datang secara mendadak dan harus ditangani dengan cepat, ternyata berpengaruh dan membantu dalam menangani tugas di rumah. Mulai dari membereskan rumah, mengurus anak, dll. Dan pentingnya kita untuk bersikap fleksibel terhadap jadwal, karena terkadang apa yang telah kita sususn jauh hari, bisa berubah sewaktu-waktu karena suatu hal emergency dan di luar dugaan. 

Jika memang ganguan sealu datang terus menerus. Kita harus bisa menciptakan suatu sistem kerja. Gangguan memang tidak bisa dihindari, tetapi selama kita disiplin untuk selalu konsisten mengerjakan tugas-tugas rutin, pada akhirnya semua akan beres.  Jangan pula berusaha untuk mengerjakan semuanya sendiri,  karena waktu dan tenaga kita yang terbatas.  Jadi jika ada  anak, pembantu, atau anak buah manfaatkan mereka sesuai porsinya secara optimal. 

Memang perlu waktu di awal untuk melatihnya agar terbiasa  dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan, tapi selanjutnya mereka sungguh akan membantu kelancaran tugas kita. Dan secara otomatis anda juga punya waktu luang untuk dihabiskan dengan keluarga.

2. Belajar Memegang Kendali

Jika seseorang merasa punya kendali dan wewenang biasanya percaya dirinya juga akan meningkat. Memberikan hal pada seseorang untuk memilih akan meningkatkan rasa tanggung jawab. Begitupun di rumah terhadap anak-anak,  ketika kita memberikan pilihan , tugas, atau memberikan apa yang menjadi keinginan anak sebagai haknya, tentu dengan pertimbangan yang matang akan memberikan rasa tanggung jawab juga pada anak-anak.

3. Belajar Mengorganisasi Diri

Jika di kantor terbiasa membuat jadwal dan kalender kerja, baik untuk jangka pendek atau panjang akan membuat tugas menjadi lebih terarah dalam pelaksanaannya. Begitu juga dengan jadwal anak buah akan menjadi terkoordinasi. Sehingga kita tahu persis tugas-tugas yang sedang ditangani, kapan waktunya bisa terkontrol. 

Begitupun di rumah, jika kita biasakan untuk membuat jadwal dengan kegiatan belanja, jadwal  suami, anak-anak, intinya semua kegiatan inti  rumah tangga. Semua akan memudahkan kita untuk mengontrol dan memonitor kegitannya.

4. Belajar Menjadi Penengah

Meskipun kedudukan kita di kantor sebagai atasan, tidak berarti  kita seorang dikantor. Diplomasi adalah hal yang penting dimanapun posisi anda berada dikantor, apalagi jika seorang atasan.  Pada dasarnya tidak ada seorangpun yang sebenanya senang “dikritik” atau disalahkan. Untuk itulah perlunya sebuah komunikasi atau pertemuan dan mengemukakan pemikiran, keberatan, ketidakpuasan atau kekesalan. Jika sudah lega maka kita bisa mengusulkan usul-usul perbaikan. Bila langsung memberikan saran perbaikan biasanya ada keberatan. Tapi bila kita memberikan kesempatan untuk berbicara lebih dahulu, biasanya mereka menjadi lebih terbuka untuk menerima saran. Mendengar sebelum berbicara itu penting untuk diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Juga kepada anak-anak atau anggota keluarga lainnya di rumah. Jika pertimbangannya matang  dan masuk akal, maka bisa diterima. Memang sebagai orang tua kitapun akan memberikan keberatan, tapi  tidak dengan nada emosional dan penuh larangan. Harus berdiskusi secara dewasa dan tidak boleh ada satu pihakpun yang merasa dipojokkan.

Sekali lagi kantor dan rumah adalah dua sisi, lingkungan yang berbeda. Tapi bisa mengajarkan hal-hal baru yang tanpa kita sadari.

Sebagai ibu rumah tangga, atau karyawati, atau wiraswasta sekalipun kita bisa menambahkan sendiri hal-hal yang telah dipelajari di kantor maupun di rumah yang kemudian dapat diterapkan di salah satu diantara di kedua lingkungan tersebut.

Dilihat: 10 kali

Pin It

Tinggalkan Balasan