Sahabat sekretaris, kali ini kita akan membahas tentang pelecehan seksual yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran pembicaraan tentang pelecehan seksual terhadap sekretaris itu tak ubahnya seperti ekploitasi, pembicaraan pelecehan seperti yang terdapat dalam film Disclosure. Memang hal pelecehan ada di berbagai aspek kehidupan tidak hanya pada sekretaris.

Hal ini juga biasanya bukan topik yang bebas dibicarakan pada awalnya. Tapi sesuatu yang ditabukan malah biasanya mengundang minat dan keingintahuan.

Keingintahuan banyak orang inilah yang membuat pembicaraan pelecehan seksual terhadap sekretaris jadi komoditas topik yang laku dan selalu menarik.

Realitas pelecehan seksual itu sendiri memang sudah banyak, bisa langsung dari korbannya atau lewat orang lain. Ada anggapan malah yang menyatakan bahwa, pelecehan sudah menjadi nasib orang sedunia yang berada dalam posisi berhadapan dengan kekuasaan.

Jadi esensi pelecehan seksual terhadap sekretaris memang ada dan salah satu realitas yang belum terbantahkan.

Apa sebenarnya pelecehan seksual? 

Pelecehan seksual adalah suatu tindakan yang menekan dan tidak diharapkan yang menyangkut seksualitas seseorang. Bentuknya bisa berupa rayuan, godaan seksual yang tidak diinginkan, penghinaan gender yang dikaitkan dengan prestasi kerja, sentuhan, lirikan yang tidak pantas yang mengandung unsur seksual bahkan yang terparah yaitu pemerkosaaan.

Ada beberapa kategori pelecehan seksual yaitu :

1. Pelecehan Gender (jenis kelamin), yaitu ungkapan verbal  dan perilaku yang merendahkan prestasi kerja seseorang yang dikaitkan dengan jenis kelaminnya. Misalnya, Apa sih yang diharapkan dari seorang manajer wanita?
2. Seduction, rayuan seksual dan sensual  yang diungkapkan dengan tidak sepantasnya (tidak senonoh) dan sifatnya merendahkan. Misalnya, mengganggu privacy dengan cara meneleponnya berkali-kali  dengan mengajak kencan atau menjadikan sasaran sindiran pembicaraan masalah seks.
3. Bribery, merayu disertai upaya penyuapan, berupa janji kenaikan gaji, dsb.
4. Sexual Coercion, memaksa dan mengancam dengan berbagai cara agar korban pelecehan bersedia memenuhi hasrat seksualnya.
5. Sexual imposition, melakukan tindakan penyerangan secara paksa agar korban pelecehan tidak berdaya menolak, Misalnya, tiba-tiba mencium dari belakang secara paksa, sampai dengan taraf yang membahayakan seperti pemerkosaan.
Pelecehan bisa terjadi sebagai satu kejadian tunggal, tapi bisa juga terjadi dari suatu rangkaian kejadian terkait dengan pekerjaan. lepas dari berbagai taraf pelecehan di atas, reaksi atau respon korban yang mungkin bermula dari penolakan bisa berlanjut dari respon positif dari korban yang bisa disebabkan oleh berbagai sebab . Misalnya, tidak kuasa menolak , takut akan ancaman . Kalau sudah begini maka peluang untuk berkembang menjadi love affair bisa jadi kenyataan.

Memang profesi sekretaris, hubungan boss-sekretaris, lingkup kerja sekretaris, hampir selalu bahkan umumnya mendapat penilaian dengan konotasi negatif. Memunculkan komentar negatif tentang cerita love affair  atau pelecehan seksual dengan bumbu-bumbunya tersendiri.

Kenapa masih muncul saja cerita dan pembicaraan negatif tentang hal tersebut padahal banyak para rekan sekretaris yang bekerja secara profesional bahkan mempunyai jenjang karir yang baik. Padahal masih banyak profesi lainnya yang mungkin mengalami hal pelecehan. Apakah karena sifat kerja yang sangat dekat dengan boss, sebuah posisi yang belum tentu bisa diperoleh oleh jenis pekerjaan lain. Jadi serangan negatif itu timbul terkesan sebagai cermin kecemburuan?

Hubungan kerja antara boss dan sekretaris memang harus dijaga. Kedekatan kerja tidak melebar  dan disalahgunakan. Karena sekretaris yang baik adalah mereka yang mampu bekerja profesional, berkepribadian baik, bisa menjaga batas, serta melakukan tugas sesuai porsinya. 

Tidak dipungkiri memang  ada “oknum” sekretaris luar dalam, tapi hal tersebut pasti muncul dengan tujuan atau motivasi tertentu, seperti materi, love affair yang iseng, atau mungkin bisa jadi cinta betulan. Ini adalah keinginan yang bersifat manusiawi,  dan hak mereka tentunya. Hanya semua itu tergantung pada keduanya. Karena bila terjadi pelecehan  penyebab yang timbul juga datang dari keduanya. Kadang ada sekretaris yang agresif dan atraktif lantas mengundang, atau memang bossnya sendiri yang memang nakal. 

Akhirnya semua bermuara pada perilaku dan sikap sesorang dalam pergaulan dan kaitannya dengan hubungan kerja. Jadi kita tidak boleh berpandangan picik dan menggeneralisir suatu kejadian. Company affair harus dihindarkan karena khawatirnya mempengaruhi prestasi kerja bahkan lingkungan kerja secara umum. 

Sekretaris yang bekerja secara profesional, adalah mereka yang bisa melayani dan mengerti pola dan ritme kerja bossnya, juga ritme perusahaan dan lingkungan perusahaan. Berhubungan dengan relasi atau rekanan bossnya secara vertikal dan horizontal , artinya bisa menempatkan diri ketika berkomunikasi dan bertindak, bisa diterima di semua level. 

Jika ada pelecehan seksual yang dialami sekretaris  semua adalah akibat dari sikap yang tidak bertanggung jawab dari keduanya. 

Dan sebagai pribadi bukan cuma sebatas suatu profesi sekretaris saja,  bertindaklah tepat dan bijak, jagalah selalu perilaku dan sopan santun, pelihara terus self esteem (harga diri) dan percaya diri  untuk berani melawan dengan cara yang santun jika memang menghadapi suatu kejadian yang bisa merusak atau mengahancurkan citra dan harga diri anda seutuhnya sebagai manusia.  

Kita harus membuka mata lebar-lebar dan berpandangan positif terhadap profesi sekretaris. Perlu dikikis konotasi negatif terhadap sekretaris sebagai profesi, dan menempatkannya dalam porsi yang sewajarnya. Berdasarkan penelitian memang pelecehan yang dialami  belum tentu pelecehan terkait dengan profesi sekretaris saja. Justru lebih terkait oleh penyebab personal, sosial serta lingkungan atau iklim dimana seorang sekretaris bekerja.

Selalu waspada!

Dilihat: 462 kali

Pin It

Tinggalkan Balasan