sekretaris anger management
 

sekretaris anger management

Pernah kesal kan Sekretarisku, bahkan marah besar di kantor, pada pekerjaan yang bertumbuk, rekan kerja,  bahkan pada atasan kita sendiri?
Kemarahan terkadang sulit untuk dipahami, tetapi sebuah kemarahan bukan hanya untuk dikontrol seperti tali kekang, namun juga perlu pengelolaan (seperti sebuah modal usaha).
Jika memang begitu, bagaimana membalik situasi tersebut dan mengelola marah dengan aman?

Mengelola Marah Bagi Sahabat Sekretaris

Marah berawal dari rasa kecewa atau kekesalan  karena harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
Itu sebabnya pelajaran utama manusia salah satunya adalah : sanggup kecewa, bukan manjadi tidak kecewa tetapi sanggup menghadapi kekecewaan dengan aman dan lapang dada.

Emosi adalah manusiawi, hal yang lumrah terjadi pada semua mahluk ciptaan Tuhan.
Tetapi apa semua orang punya pengelolaan marah atau emosi (anger management) yang baik?
Kemarahan adalah sebuah energi yang tidak bisa kita musnahkan, tapi  sebaiknya tidak ditahan sehingga tidak menjadi menumpuk dan kelak membahayakan diri sendiri atau kesehatan.

Beberapa hal  yang bisa membantu  kita  mengelola rasa marah diantaranya.

  1. Ingatlah bahwa fungsi utama kemarahan menjadi  penanda bahwa sesuatu  itu salah dan butuh perbaikan.
  2. Kenali tanda-tanda kejengkelan atau kemarahan, seperti dada sesak, mengepalkan tangan, merapatkan gigi, memaki, dll. Jika sudah tahu tandanya lakukan hal yang menyenangkan untuk mengalihkan pikiran : dengan mengatur napas, melihat atau mendengarkan hal yang menyenangkan.
    Jangan dihindari atau melarikan diri, tetapi berikan sedikit waktu atau ruang untuk anda menjadi lebih rileks. Sehingga anda mungkin bisa fokus memikirkan solusi keluar dari kemarahan.
  3. Mencari kegiatan yang dapat membuat kita senang, tanpa resiko, tanggung jawab, tuntutan atau kewajiban. Apakah itu hobbi yang bisa membuat reaksi relaks, jadi setiap gejolak emosi itu muncul segeralah untuk melakukan kegiatan menyenangkan. Tentunya hobi atau kegiatan positif dong…
  4. Komunikasikan dengan baik  perasaan kecewa atau kejengkelan, sebelum emosi meninggi demi mencegah sindiran, kata-kata kasar (sarkasme).
  5. Tegas itu baik, tetapi agresi (pasif ataupun aktif) itu tidak baik. Oleh karena bela diri kita dengan cara yang benar, tanpa harus pura-pura dan berkatalah  jujur apa yang menjadi kejengkelan atau kemarahan kita.
  6. Waspada dan hindari untuk  tidak terjebak dalam siklus kemarahan yang bisa merugikan dan  tidak pernah berakhir.

Sahabat sekertarisku, jangan buang energi kita untuk hal-hal yang tidak memberi manfaat positif. Padahal masih banyak pekerjaan penting lainnya yang menunggu penyaluran energi positif kita.

Advertising – Baca Juga :

Dilihat: 49 kali

Pin It

Tinggalkan Balasan